Bocah Rambut Gimbal Minta Kentut Sekantong Plastik

INDONESIA MENARI: SMK HKTI 1 Purwareja Klampok (Haksa) turut memeriahkan DCF dengan menampilkan 'Indonesia Menari' yang terinspirasi dari keanekaragaman tari yg ada di Indonesia.

BANYUMASEKSPRES.com – Dalam acara Dieng Culture Festival (DCF) X 2019 banyak cerita unik. Salah satunya dalam ruwatan bocah rambut bajang atau gimbal, salah satu peserta minta ‘kentut’ satu plastik. Permintaan tersebut merupakan prasyarat yang harus dipenuhi sebelum dilakukan ruwatan cukur rambul gembel.

Satu anak gimbal Dinda Syifa Ramadani (4) putri Sugianto dan Mursinah dari Jlamprang Leksono Wonosobo minta ‘kentut’ satu plastik dan telur puyuh satu biji.

Meskipun terdengar lucu, namun permintaan tersebut harus dipenuhi oleh penyelenggara. Maka “kentut” dalam besek bambu pun diusung ke panggung dan ditunjukkan pada penonton yang selanjutnya diberikan pada peserta tersebut.

Cukur rambut gimbal ini menjadi puncak acara Dieng Culture Festival (DCF). Pada DCF X 2019 ini, ada 11 anak bajang yang dicukur di Komplek Candi Arjuna, Minggu (2/8).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banjarnegara Dwi Suryanto mengatakan, pada DCF tahun ini, salah satu acara inti perhelatan ini adalah ritual cukur rambut gimbal.

Prosesi pemotongan rambut gimbal

Kesebelas anak itu mengikuti ritual setelah didaftarkan ke panitia penyelenggara DCF jauh-jauh hari. “Sebelumnya hanya sembilan anak yang ikut prosesi . Namun beberapa minggu menjelang acara, dua anak menyusul mendaftar,” jelasnya.

Selin kentut, permintaan lain dari anak gembel yang diruwat antara lain es krim coklat, pecut klintingan topeng, uang Rp 4 ribu, cincin dan duren, laptop, dua ekor kambing, liburan ke pantai, sepeda berwarna pink, dan uang Rp 4 juta serta ada juga yang permintaannya tiga jenis sekaligus yaitu bakso, sepeda, dan HP.

Plh Gubernur Jateng Taj Yasin mengapresiasi kegiatan yang sudah berjalan ke sepuluh ini. Ia berharap wisatawan kerasan tinggal lebih lama di Dieng. “Bagi yang belum mendapati salju Dieng, cobalah ditunggu lagi sambil menikmati indahnya alam Dieng,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Selain rangkaian yang begitu banyak, panitia DCF kali ini juga mengangkat dan mengakmodir sejumlah sekolah untuk tampil dalam perhelatan bergengsi ini. Salah satunya SMK HKTI 1 Purwareja Klampok (Haksa) yang mengirimkan delegasinya dalam bentuk tari, dan sejumlah kesenian lainnya.

“Kali ini kami beri nama ‘Indonesia Menari’, terinspirasi dari keanekaragaman tari yg ada di Indonesia, sehingga dikemas tarian dari beberapa daerah dengan ciri gerak dan musik yg khas dari beberapa provinsi yang ada di Indonesia,” kata Fitri Kurnia Sari pelatih tari Haksa Purwareja Klampok.

Ia berharap, DCF menjadi salah satu wadah untuk menyalurkan bakat para muda mudi agar budaya Indonesia selalu eksis. (drn/ook)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *